Posted by & filed under Uncategorized.

20181021_234113-750x375

Slawi – Ribuan santri dari wilayah Kabupaten Tegal membanjiri kawasan Lapangan Pemda Kabupaten Tegal, Minggu (21/10/18) malam. Dengan antusias dan penuh bahagia, mereka mengikuti kegiatan pengajian yang digelar dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2018 yang ke-4.

Meskipun acara pengajian dimulai pukul 20.00 WIB, namun para santri baik anak-anak, remaja hingga santri dewasa sejak sore hari sudah berdatangan untuk ikut serta dalam pengajian tersebut.
Isah, salah satu santri asal Bojong mengaku sangat antusias mengikuti pengajian ini. “Saya sengaja datang sejak sore hari. Supaya bisa melakukan dzikir terlebih dahulu, kemudian saya juga senang bisa sholat Maghrib dan Isya berjamaah disini bersama para santri yang lain,” ujarnya.
Hadir dalam acara tersebut, Plt. Bupati Tegal, Umi Azizah. Dalam sambutannya mengatakan, Hari Santri Nasional bukan saja perwujudan rasa syukur, penghormatan, dan penghargaan kita kepada santri, para ulama atau para pendahulu kita. Tetapi juga momentum penting bagi kita untuk memupuk dan menumbuhkembangkan semangat rasa cinta dan tanah air. “Karena hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air bagian dari iman. Bukan “sebagian” dari iman, tapi bagian dari iman,” tuturnya.
Ia menegaskan, bahwa di tengah situasi perpolitikan nasional dan percaturan ekonomi global. Ada satu hal yang harus diingat, yang harus ditanamkan betul dalam sanubari kita sebagai anak bangsa. Yaitu kesadaran bahwa negara kita adalah negara yang besar.
“Negara kita diberi anugerah oleh Allah SWT sebagai negara dengan beragam suku, agama, adat, tradisi dan budaya. Terdapat 714 suku dan lebih dari 1.100 bahasa daerah,” terang Umi.
Untuk itu, Umi meminta para santri untuk terus merawat, menjaga dan menempatkan perbedaan-perbedaan itu sebagai sebuah kekuatan. Bukan ancaman apalagi sampai memaksakan kehendak hanya karena perbedaan budaya.
Dengan jumlah santri di Indonesia yang mencapai 3.962.700 orang dan tersebar 25.978 pesantren di seluruh Indonesia, Umi meyakini para santri mampu menyuarakan pesan-pesan perdamaian dengan spirit moderasi keagamaan untuk mengurai persoalan kebangsaan yang kian kompleks.
“Kehidupan komunikasi sosial kita sekarang ini banyak dirusak oleh fitnah. Oleh cara-cara berpolitik yang tidak santun, tidak beradab, sehingga muncul hoaks, berita bohong, ujaran kebencian hingga profilerasi,” ungkapnya.
Dalam kesempatan ini, Umi mengajak para santri agar lebih bijak memanfaatkan media sosial, lebih beretika, karena ini menyangkut entitas bangsa, menyangkut ukhuwah insaniyah.
“Mari kita tebarkan semangat positif yang akan membawa masyarakat, membawa negara ini dalam optimisme, apapun tantangannya, apapun rintangannya. Demi terwujudnya Bangsa Indonesia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” harapnya.